
Lukisan atau poster yang bisa bergerak dan bicara selama ini cuma bisa kita lihat di film Harry Potter. Tapi, bukan berarti itu mustahil. Dai Nippon Printing Co. Ltd. mengembangkan teknologi yang membuat hal tersebut hampir terwujud. Nama teknologi itu adalah Shining & Speaking Poster.
Perangkat ini adalah semacam poster yang bisa bersinar dan berbicara. Hal itu dimungkinkan berkat integrasi panel OLED, panel EL inorganik, dan flat speaker yang berbentuk seperti panel. Panel OLED menampilkan informasi berupa tulisan dan gambar. Panel EL memancarkan cahaya dari bagian belakang film untuk menghasilkan efek animasi pada gambar. Panel speaker didesain seperti diafragma yang menggetarkan udara untuk mentransmisikan rekaman audio yang dibuat sebelumnya. Diafragma itu tebalnya tidak lebih dari 5 mm sehingga poster bisa lebih fleksibel dipasang di mana saja.

Perusahaan keamanan ternama, Trend Micro melaporkan, Rabu (19/08) lalu mengenai adanya aplikasi Facebook yang mampu mencuri informasi login dan mengirim spam ke korban lainnya. Sejauh ini, terdapat 6 aplikasi ‘jahat’ yang telah teridentifikasi., yakni "Stream", "Posts", "Your Photos", "Birthday Invitations", "Inbox (1)", dan "Inbox (2)". Menurut Rik Ferguson, peneliti Trend Micro, semua aplikasi tersebut masih dalam keadaan aktif kecuali untuk "Stream”.
Aktivitas keenam aplikasi tersebut, menurut Ferguson, dimulai di minggu ini dengan adanya notifikasi dari sebuah aplikasi benama "sex sex sex and more sex!!!", yang memiliki 287,000 fans. Notifikasi tersebut berisi bahwa seseorang telah mengomentari postingan tersebut. Ferguson menambahkan, aplikasi tersebut tidak ‘jahat’ dan mungkin justru digunakan untuk mendistribusikan spam.
Notifikasi pertama berupa hyperlink yang kemudian mengarah ke situs phishing di domain "fucabook.com", yang teregister atas nama seseorang di Armenia. Setelah user memberikan informasi loginnya, maka user akan diarahkan langsung ke Facebook dan sebuah instalasi aplikasi bernama “Posts“. Ketika diinstal, aplikasi tersebut akan mengirimkan spam kepada teman user dengan notifikasi "Profile_name has sent you a message", dengan tambahan hyperlink ke situs phishing yang sama. Namun, kemudian hyperlink tersebut kemudian diarahkan ke alamat IP yang simple, bukan ke domain "fucabook.com" tersebut.
Menurut Ferguson, semua aplikasi tersebut beraksi sama seperti aplikasi lainnya, termasuk untuk perlakuan ke iklan. Sementara pihak Facebook belum berkomentar lebih lanjut dan berjanji akan mencari inti masalahnya. Ferguson menyarankan kepada pengguna Internet, untuk selalu mengecek URL yang tertampil di address bar browser sebelum memasukan informasi penting ke situs tersebut dan menekan mouse ke hyperlink untuk melihat URL. Pengguna Facebook juga harus me-reviwe setting privacy secara rutin dan menghapus aplikasi yang sudah tidak digunakan, tambahnya.

Setelah mendapati account wireless provider AT&T dan informasi personalnya yang diposting ke website provider tersebut, hacker ternama Kevin Mitnick mengatakan hawa provider layanan seluler tersebut seharusnya membayar kompensasi atas masalah tersebut. Namun, pihak AT&T malah berencana untuk membatalkan kontrak Mitnick dan tidak membayar kerusakan atas pelanggaran tersebut, walaupun layanannya masih befungsi hingga Kamis (20/08) lalu.
“AT&T ingin saya keluar dari jaringan mereka karena mereka sebenarnya tidak dapat mengamankan account saya, dan setelah saya menjadi pelanggan yang loyal untuk beberapa decade, malah mendapat perlakuan seperti ini. Tampaknya lebih efektif dengan membuang saya ketimbang mengamankan informasi pelanggan mereka. Saya ingin me-review kontrak saya untuk melihat batasan apa saja yang ada di agreement layanan AT&T. Saya mungkin bisa mengajukan tuntutan untuk adanya invasi privacy atas kerusakan account saya dan untuk memproteksi informasi rahasia milik saya.” ungkap Mitnick.
Ironisnya, Mitnick berspekulasi bahwa siapapun yang bertanggungjawab telah menyusup ke account-nya past menggunakan teknik social engineering miliknya, yang pernah dibukukan dalam The Art of Deception miliknya. “Oknum tersebut mungkin membaca buku saya dan memutuskan untuk mencuri informasi saya menggunakan teknik social engineering saya karena caranya sangat mudah. Saya sudah bilang ke AT&T, namun mereka mengabaikannya. Kemungkinan lainnya dapat berimbas kepada pelanggan AT&T lainnya” jawab Mitnick.
Mitnick melancarkan komplainnya sejak Juni lalu, dan menemukan seseorang telah memposting nomor ponsel, alamat rumah, PIN, alamat email, IM, dan 4 digit terakhir dari nomor Social Security di web AT&T di bulan Maret. Ketika ia gagal mendapatkan respon dari AT&T atas komplainnya, kemudian ia memanggil pengacara untuk membayar sejumlah kerusakan atas reputasi dan hak ciptanya. Namun, menurut juru bicara AT&T, pihaknya telah menginvestigasi klaim Mitnick, dan memutuskan untuk menolak permintaan ganti rugi uang untuk Mitnick, namun membiarkan ia keluar dari kontrak, dan memilih carrier lain yang lebih nyaman baginya.